Part 1
Tanganku menggores-gores kacau. Entah luapan amarah atau perasaan lain yang mengkontaminaasi. Aku masih menggores sampai akhirnya hembusan angin mengacaukan coretanku. Tumpukan kertas di pangkuanku berhamburan dan menyisakan selembar kertas usang yang lama kusimpan dan urung kuselesaikan. Coretan di kertas itu membuatku berjalan kembali ke masa menyakitkan itu.
Jumat, 12 Oktober 2012
Jumat, 22 Juni 2012
Goresan Canting
Canting . . . canting itu gemetar kala menggoreskan gambar yang patah . . .
gambar patah yang patah hati dan terluka . . . gambar menganga yang kesakitan . . .
sesakit apa yang kuunduh sekarang . . . sesakit doa yang kulambungkan ke langit kala mentari terbakar dan berdarah . . .
sungguh dosa . . . dosa jika aku mencintai dengan segenap jiwaku, namun kusayat cinta itu hingga berdarah-darah . . . kuhantam hingga menghitam . . .
Kini, hanya canting tak berdosa yang menggoreskan luka . . . luka di kain basah di tanganku.
dan luka di tangan basah . . . basah oleh darah . . .
darah patah hati . . .
gambar patah yang patah hati dan terluka . . . gambar menganga yang kesakitan . . .
sesakit apa yang kuunduh sekarang . . . sesakit doa yang kulambungkan ke langit kala mentari terbakar dan berdarah . . .
sungguh dosa . . . dosa jika aku mencintai dengan segenap jiwaku, namun kusayat cinta itu hingga berdarah-darah . . . kuhantam hingga menghitam . . .
Kini, hanya canting tak berdosa yang menggoreskan luka . . . luka di kain basah di tanganku.
dan luka di tangan basah . . . basah oleh darah . . .
darah patah hati . . .
Langganan:
Postingan (Atom)